Halaman

Senin, 25 April 2011

Tulisan V


Belajar dari Negara Tetangga

Banyak kisah sukses pembangunan industri yang bisa kita lihat dari Negara-negara tetangga. Hal ini tentunya bisa dijadikan bahan acuan Indonesia untuk menjadi semakin lebih baik lagi. Singapura dan Malaysia  bisa maju seperti sekarang karena pembanguna industri dan jasa yang semakin baik. Jepang dan korea selatan yang dahulunya tak jauh berbeda dengan Indonesia, sekarang menjadi salah satu kekuatan ekonomi dunia. Banyak hal yang kita bisa kita contoh dari kisah sukses beberapa Negara ini.

     Pada tahun 1961, delapan tahun setelah perang saudara dengan korea utara, pendapatan tahunan korea selatan berhenti pada $82 perorang. Penghasilan orang korea selatan rata-rata kurang dari separuh penghasilan warga Ghana ($179). Perang korea merupakan salah satu peran yang paling banyak menumpah darah sepanjang sejarah manusia dengan memakan empat juta korban jiwa hanya dalam waktu 3 tahun (1950-1953). Separuh jumlah pabrik di korsel dan lebih dari 75% rel kereta hancur. Negara ini telah memperlihatkan kemampuan organisasionalnya dengan berhasil menaikan rasio melek huruf penduduknya hingga 71% dari Cuma 22% pada tahun 1945. tetapi pada umumnya, korea ketika itu dipandang sebagai keranjang sampah kegagalan pembangunan. Laporan internal tahun 1950an dari USAID lembaga bantuan pemerintah AS menyebutkan korea sebagai sumur tanpa dasar. Ketika itu, ekspor utama korea adalah tugsten, ikan, dan komoditas-komoditas pokok lainnya.

     Hal ini tentunya mirip dengan Indonesia dimasa sekarang. Namun, kini korea selatan mengalami pertumbuhan yang sangat luar biasa. Samsung, sekarang dikenal sebagai salah satu eksportir terbesar dunia untuk telepon genggam, semikonduktor, dan computer. Padahal, kondisi jauh berbeda dengan sekarang. Perusahaan ini memulai dengan mengekspor ikan, sayuran, dan buah-buahan pada tahun 1938, tujuh tahun sebelum kemerdekaan korea dari jepang. Hingga tahun 1970an, bisnis utamanya adalah tekstil dan rafinasigula yang dimulai pada pertengahan 1950an. Ketika beralih ke industri semi konduktor dengan kepemilikan 50% saham dalam korea semikonduktor pada 1974, tak seorangpun yang menganggapnya serius. Samsung bahkan tidak memproduksi televisi berwarna hingga 1977 ketika perusahaan itu, pada 1983, mengumumkan niatnya untuk menyaingi industri semikonduktor kelas berat AS dan jepang, dengan mendesain chipnya sendiri, hanya sedikit orang yang bisa diyakinkan. Sekarang Samsung sudah menjadi salah satu perusahaan elektronik terbesar didunia. Korea selatanpun menjadi Negara maju dan menjadi bahan acuan bagi berbagai Negara lainnya.

     Hal senada juga terjadi dijepang. Pada suatu ketika, pembuat mobil terkenal dijepang mengekspor mobil penumpang pertamanya ke AS. Sebelumnya, perusahaan kecil itu hanya membuat tiruan dari Negara-negara kaya. Mobil yang dieksporpun jauh lebih bagus. Tetapi itu menjadi moment bagi Negara tersebut, eksportirnyapun ikut bangga. Sayangnya produk itu gagal. Mobil kecil itu tampak buruk dan pembeli enggan menggunakan uang mereka untuk mobil keluarga yang datang dari suatu tempat yang membuat produk kelas-kelas dua. Mobil-mobil itu harus ditarik dari pasar AS.

     Bencana ini memancing perdebatan besar dikalangan warga di Negara produsen. Banyak yang berpendapat, perusahaan itu mestinya tetap pada bisnis aslinya, yaitu memproduksi mesin-mesin tekstil yang sederhana. Lagipula ekspor utama jepang adalah sutra. Kalau perusahaan itu tidak bisa menghasilkan mobil bagus setelah 25 tahun mencoba, artinya Negara itu tidak mempunyai masa depan di bidang itu. Pemerintah telah memberikan si pembuat mobil setiap kesempatan untuk sukses. Pemerintah telah memberikan jaminan keuntungan besar di dalam Negara lewat tariff tinggi dan pengawasan modal ketat terhadap modal asing untuk industri mobil. Hamper sepuluh tahun sebelumnya, pemerintah bahkan memasok dana untuk menyelamatkan perusahaan yang telah bangkrut itu. Jadi, demikian pendapat orang selanjutnya, mobil luar sekarang harus dibiarkan masuk dengan bebas, dan para pembuat mobil asing yang telah ditendang ke luar 20 tahun sebelumnya, diperbolehkan untuk membuka took kembali.

     Ada yang tidak setuju, mereka mengatakan bahwa Negara tidak akan pernah kemana-mana jika tidak mampu membangun industri yang serius. Cuma dibutuhkan tambahan waktu untuk bisa membuat mobil yang menarik bagi setiap orang. Ketika tahun 1958, perusahaan yang dimaksud adalah Toyota dan mobil yang dibuat adalah toyopet. Toyota memulai usahanya dengan cara membuat mesin-mesin tekstil dan merambah ke pembuatan mobil pada 1933. pemerintah jepang mendepak genderal motor dan ford pada 1939 dan mengguyur uang bagi Toyota dari bank sentral.kini, mobil-mobil jepang dipandang sama alamiahnya dengan salmon skotlandia atau anggur perancis, tetapi tidak sampai 50 tahun yang lalu, kebanyakan orang, termasuk orang jepang, menganggap mobil buatan jepang tak perlu ada.

     Terakhir kita membahas singapura. Negara ini sangatlah kecil, mungkin Jakarta lebih besar ketimbang singapura. Akan tetapi Negara ini memiliki perusahaan Negara yang sangat sukses. Singapore airlines adalah salah satu perusahaan penerbangan yang paling tinggi di dunia. Sering dipilih sebagai perusahaan penerbangan paling disukai, ia efisien dan ramah. Tidak seperti penerbangan lain, Singapore airlines tak pernah merugi dalam 35 tahun sejarahnya.

     Perusahaan itu milik Negara, 57% dikontrol oleh temasek, holding company yang menjadi pemegang saham satu-satunya adalah kementrian keuangan singapura, termasuk holdings memiliki saham pengendali di sekumpulan besar perusahaan lain sangat efidien dan sangat menguntungkan. Sector BUMN singapura dua kali lebih besar daripada BUMN korea, bila diukur dari kontribusinya bagi produk nasional. Kalau diukur dari investasi nasional keseluruhan, besarnya hamper tiga kali lipat dibandingkan korea. Sector BUMN korea sendiri sekitar dua kali lebih besar dari argentina dan lima kali lebih besar dari Filipina, diukur dari andilnya pada pendapatan nasional. Tetapi, baik argentina maupun Filipina secara popular dipercaya telah gagal karena terlalu banyak beban, sementara korea dan singapura sering diberi tabik sebagai kisah suksek pembangunan ekonomi yang dipacu noleh sector swasta.

     Inilah kisah sukses ketiga Negara tetangga yang seharusnya bisa ditiru oleh Indonesia. Kita bisa membangun banyak hal disini dan pasti bisa mengalahkan pencapaian yang telah dicapai korea selatan, jepang, dan singapura. Indonesia mempunyai kemampuan untuk mencapainya dan yang terpenting adalah adanya niat yang besar serta keseriusan dari pemerintah. Pemerintah harus benar benar terjun langsung agar nantinya Indonesia bisa memiliki industri atau perusahaan-perusahaan top yang bisa mengangkat derajat dan perekonomian Indonesia

Sumber : buku Perekonomian Indonesia di Mata Anak Muda UI   

Tulisan IV

Ekonom: Kinerja Perekonomian Indonesia Belum Memuaskan

Menurut pengamat ekonomi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Latief Adam, kinerja pemerintah  di bidang ekonomi sepanjang  satu tahun terakhir tidak mengalami kemajuan. Ia menilai pemerintah masih bangga dengan pencapaian-pencapaian bersifat teori yang ditulis dalam RAPBN 2011. Padahal menurutnya yang terpenting adalah realisasi target pencapaian yang dapat dilihat dari berkurangnya angka pengangguran dan angka kemiskinan  yang ternyata belum berhasil dilakukan pemerintah hingga sekarang.
“Menurut saya sih harus ada action plan yang jelas dari pemerintah, tingkat pertumbuhan ekonomi itu akan mampu menciptakan kue ekonomi  sehingga bisa dinikmati oleh masyarakat banyak  dan pada akhirnya akan bisa meningkatkan kesejahteraan  dalam bentuk pengurangan kemiskinan dan  pengangguran,” kata Latief Adam.
Banyaknya masukan dari berbagai kalangan agar Presiden Yudhoyono melakukan perombakan sususan kabinet karena beberapa menteri dinilai tidak berhasil, menurut Latief Adam langkah tersebut tidak berguna. Ia menegaskan, kinerja seorang menteri  tidak berjalan sendiri melainkan melalui sistem yang telah ditetapkan dan tentunya telah disetujui presiden dan wakil presiden serta kementerian lain.
“Kalau saya selalu mengistilahkan ekonomi itu suatu sistem, kita akan sulit menyalahkan  menteri yang tidak perform, itu yang pertama, kemudian yang kedua, agak rumit  kalau ada  pertimbangan-pertimbangan politis,” jelas Latief Adam.
Menurut ekonom dari Universitas Indonesia, Faisal Basri, sebaiknya pemerintah tidak lagi bangga dengan pertumbuhan ekonomi. Ditegaskan Faisal Basri, jika selama ini pemerintah berpendapat ekonomi Indonesia tumbuh signifikan, hal itu belum terbukti. Ia juga menambahkan pemerintah harus segera menuntaskan berbagai kasus yang selama ini membuat masyarakat mengalami krisis kepercayaan terhadap pemerintah, terutama soal korupsi.
“Oke pertumbuhan ekonomi memang makin lama makin tinggi,  tapi ingat 2010 ini pertumbuhan ekonomi kita yang meninggi terus 6,2 persen  itu terendah di ASEAN, kemudian target pertumbuhan harusnya sudah tercapai 6,5 persen di awal tahun ternyata tidak dan  persoalan-persoalan lain yang  seharusnya tidak terjadi lagi, masih tetap terjadi,” ungkap Faisal Basri.
Menurut Gito Ganindito anggota Himpunan Pengusaha Muda  seluruh Indonesia (HIPMI), sulit menilai berhasil atau tidaknya perekonomian Indonesia hanya melalui satu tahun kinerja pemerintah. Namun ia berharap sektor riil mampu tumbuh karena beberapa tahun terakhir stagnan sehingga tidak menciptakan lapangan kerja baru.
“Memang kalau kita lihat dalam tempo satu tahun memang relatif cukup singkat, susah untuk menjadi suatu tolok ukur  keberhasilan soal investasi, mudah-mudahan semua bisa berjalan di koridor yang benar. Itu mustinya 2014 sih,  sebenarnya ada harapan juga ya, tetapi kalau saya lihat dari terakhir kemarin kelihatannya kita jalan di tempat saja,” jelas Gito Ganindito.
Sementara itu para menteri bidang ekonomi berpendapat berbagai bidang terkait ekonomi terus tumbuh. Pertumbuhan ekonomi, perbankan, ekspor, investasi, pasar modal hingga Usaha Kecil dan Menengah (UKM) ditegaskan pemerintah terus meningkat. Selain itu pengangguran dan kemiskinan mengalami penurunan.

Sumber :


Minggu, 24 April 2011

Tulisan III



Peran Pemerintah dalam Perekonomian

Ketika Negara-negara Asia Timur mampu keluar dari krisis ekonomi yang terjadi pada periode 1997-1998, banyak pihak yang mengasosiasikannya dengan peranan pemerintah yang sangat kuat. Jika kita melihat lebih dalam lagi, peran pemerintah pada saat itu sangatlah besar. Kehadiran serta kekuatan pemerintahlah yang membuat Negara-negara ini mampu keluar dari jurang krisis. Pemerintah dan swasta mempunyai interaksi yang sangat bagus di Negara asia timur. Interaksi ini juga dilandasi dengan adanya fungsi kelembagaan yang diatur dengan sangat baik sehingga memungkinkan terjadi efisiensi dalam perekonomian suatu Negara. Hal ini mungkin sulit kita temui di Negara barat, dimana peran pemerintah mereka upayakan seminimal mungkin.
            Campur tangan pemerintah dalam perekonomian tidak perlu dipandang sebagai sebuah musibah. Keberhasilan Negara-negara asia timur keluar dari krisis ekonomi, selalu jadikan contoh bagus betaoa besarnya peranan pemerintah untuk mengatasi masalah ekonomi. Satu hal yang memang harus digaris bawahi adalah tidak semua campur tangan pemerintah mampu menghasilkan keberhasilan dalam bidang ekonomi. Tidak sedikit kekacauan pada suatu Negara terjadi akibat terlalu dominannya pemerintah. Seperti ketika pada krisis ekonomi pada masa orde lama yang disebabkan karena terlalu dominannya pemerintah soekarno. Pemerintah yang terlalu lemah pun juga bias membuat perekonomian amburadul, seperti krisis 2008. pendulum intervensi pemerintah haruslah diseimbangi dengan kebutuhan yang ada.
            Banyaknya campur tangan pemerintah juga belum tentu mencerminkan pemerintahan yang kuat. Ditambah lagi campur tangan tersebut justru bercampur baur dengan adanya kepentingan golongan atau keluarga. Sedari awal, pemerintah harus memberikan batasan yang jelas dalam masalah ini dan harus diiringi dengan otonomi pemerintah basri (2009) berpendapat bahwa otonomi ini memerlukan syarat mutlak yang harus dipenuhi oleh pemerintah untuk menjamin keberhasilan suatu Negara dalam menjalankan kegiatannya. Kita harus bias menjelaskan kapasitas pemerintah untuk mempertimbangkan keputusan ekonomi dan politik yang akan selalu berubah setiap waktu. Dengan demikian, tidak ada bentuk pasti tentang keterlibatan Negara dalam suatu pemerintah yang memberikan hasil yang maksimal. System yang baik serta kemampuan pemerintah dalam menanggapi segala kondisi dengan sigap adalah suatu keharusan.
            Dalam suatu teori politik dan pemerintahan, peran Negara dapat dibagi menjadi 3 bagian : perencanaan (planner), pelaku (actor), dan mengatur (regulator). Indonesia sebagai Negara berkembang dan sedang melakukan pembangunan, tentunya harus memikirkan bagaimana cara memposisikan pemerintah dalam perekonomian Negara. Pilihan kita bias saja mengikuti apa yang telah dilakukan oleh Negara maju sebelumnya, atau justru memilih cara kita sendiri. Hal ini tentunya mempunyai konsekuensinya masing masing. Suatu Negara yang baru membangun tentunya memiliki system pasar yang belum berjalan dengan maksimal. Pemerintah harus memperkokoh fondasi yang dibutuhkan untuk bias menjalankan mekanisme pasar bagi Negara. Hal ini biasanya disebut dengan market friendly approach. Penetapan kapasitas pemerintah yang memadai tentunya akan memberikan jaminan kepada Negara dalam menjalankan pembangunannya.
            Selanjutnya adalah mengubah arah campur tangan pemerintah dari yang bersifat lebih langsung menjadi tidak langsung. Beberapa Negara asia timur telah berhasil melaksanakannya dengan baik. Jepang dan korea selatan memperlihatkan kepada kita bagaimana caranya agar peran pemerintah berjalan dengan maksimal dan efisien.keburukan yang terjadi pada praktek bisnis dan politik di korea selatan dan jepang menjadi pelajaran bagi kita bahwa ada yahapan yang kita lalui dengan maksimal.
            Di Indonesia masih menjadi hal yang biasa jika terjadi kasus penyuapan, intrik kepentingan politik demi kepentingan bisnis keluarga atau golongan, serta lemahnya system hukum Negara. Akibatnya, tidak ada ketakutan terhadap pemerintah dan hukum di Negara ini yang membuat Negara kita sulit untuk maju. Jepang telah melalui dengan biaya yang tidak murah. Banyak konglomerat dan politisi yang harus dihukum demi kebaikan Negara. Korea selatanpun demikian, Negara ini harus mengorbankan kepentingan para konglomeratnya demi kepentingan suatu Negara secara keseluruhan. Namun, pada akhirnya kedua Negara ini menuai hasilnya sekarang.
            Kita mungkin belum bisa maksimal dalam menjalankan fungsi pemerintah, karena masih terlalu banyak instrik dan kepentingan dalam system pemerintahan yang dijalankan. Hal ini tidak bias didiamkan begitu saja, sudah saatnya pemerintah lebih tegas memposisikan diri dalam menjalankan fungsi Negara. Sekarang, kita melihat pemerintah tidak tegas dan terkesan takut untuk menjalankan sebuah gebrakan. Kita terlalu melindungi politisi dan konglomerat yang berjuang  untuk kepentingan golongan semata. Ketakutan-ketakutan seperti ini sering sekali dijadikan pertimbangan pemerintah. Jika selalu memikirkan pilihan dan tekanan politik, maka kita akan sulit untuk maju mengejar Negara Negara asia timur. Pemerintah harus mampu bertindak sesuai dengan kebutuhan dalam perekonomian.
            Milton friedman pernah berkata bahwa pemerintah belum tentu mengetahui segala hal, karena pemerintah memang bukan orang yang tahu segalanya. Pernyataan friedman benar, karena pemerintah tidak akan pernah tahu masalah yang terjadi secara keseluruhan. Akan banyak distrosi informasi yang diperoleh oleh pemerintah. Karena itu, pemerintah harus bias cermat dalam melakukan intervensi. Sesuai dengan filosofi keynessian, pemerintah perlu bertindak pada saat yang dibutuhkan. Terlalu besarnya intervensi pemerintah bisa jadi suatu hal bagus atau justru merusak system yang telah berjalan. Bagaimana dengan Indonesia? Kita harus lebih tegas dan cermat dalam melaksanakan fungsi Negara. Pemerintah harus ada pada elemen-elemen penting Negara dan membiarkan pasar bertindak pada lahan-lahan yang dianggap mampu berjalan dengan baik tanpa adanya campur tangan Negara.

Sumber : Buku Perekonomian Indonesia di Mata Anak Muda UI  

Tulisan II

Industri, Pertumbuhan Ekonomi, dan Campur Tangan Pemerintah

Kajian mengenai ekonomi bias menjadi sebuah bahan diskusi yang tiada habisnya, apalagi jika membahas perekonomian Indonesia. Setiap orang, baik itu kalangan yang menyebut dirinya pengamat ekonomi ataupun pengamat politik, mempunyai pandangan tersendiri terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Tak hanya dari akademisi dalam negeri, mereka yang di anggap sebagai akademisi dalam negeri, mereka yang dianggap sebagai akademisi top dunia pun ikut mencurahkan waktunya untuk melihat sepak terjang perekonomian negeri khatulistiwa. Ada yang optimis, tapi tak sedikit pula yang pesimis dengan prospek Indonesia kedepan. Tentunya basis argument yang mereka sampaikan mempunyai kelebihan dan kelemahan masing-masing. Penelitian penelitian terhadap kondisi ekonomi Negara tiap tahunnya selalu menemukan gejala baru yang selalu menemukan gejala baru yang selalu unik untuk dibahas lebih lanjut. Kondisi tersebut membuat banyak orang selalu mencurahkan perhatiannya terhadap sector yang dianggap bertanggung jawab terhadap kesejahteraan masyarakat.
          Kondisi perekonomian Indonesia semakin menarik untuk dibahas sejak pertengahan krisis ekonomi 1997-1998. Indonesia menjadi salah satu dari sekian banyak Negara asia yang mengalami keterpurukan ekonomi. Pada masa itu, kontraksi ekonomi mencapai 13%, diikuti banyaknya pemutusan hubungan kerja ( PHK ) terhadap para karyawan dan perusahaan-perusahaan yang harus gulung tikar. Meskipun penanggulangan ekonomi Indonesia pasca krisis tidak sebaik Negara-negara senasib lainnya, tetapi Indonesia dianggap sebagai salah satu macam tidur asia yang sedang menunggu waktu untuk bangun.
          Krisis ekonomi amerika serikat pada tahun 2008, ditandai dengan jatuhnya lehman brothers, ikut menggoyangkan perekonomian nasional. Tetapi, Indonesia berhasil menjadi salah satu dari tiga Negara-negara selain cina dan India yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi disaat Negara-negara belahan dunia lainnya justru mengalami keterpurukan. Banyak pihak yang mengatakan bahwa kita bias bertahan karena factor goodluck dan good policy. Tetapi, terlepas dari itu semua, kita bias menunjukkan bahwa fondasi perekonomian kita mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan tahun tahun sebelumnya.
          Meskipun begitu, Masih banyak hal yang belum terselesaikan dengan baik oleh pemerintah. Diantaranya, kemiskinan, pengangguran, rendahnya kualitas pendidikan, serta berbagai masalah structural lainnya. Hal-hal inilah yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah yang masih harus diselesaikan jalan keluarnya. Apalagi jika melihat perekonomian kita tidak didukung dengan factor pendukung seperti infrastruktur dan sarana prasarana yang memadai. Hal ini menyebabkan kita sulit untuk tumbuh secara eksponensial. Kebanyakan pencapaian pertumbuhan ekonomi yang kita alami hanyalah pertumbuhan yang linear dan tidak terlalu ambisius.
          Pada masa pasca krisis, Indonesia mengalami laju pertumbuhan ekonomi yang cukup baik. Jika melihat besaran angka pertumbuhannya, maka kita sudah berada pada on the right track. Seperti yang dikemukakan oleh Boediono dalam bukunya (2009) Ekonomi Indonesia Mau Kemana? Dalam salah satu bab buku tersebut, Boediono mengatakan bahwa kondisi perekonomian kita telah bergerak kepada arah yang diharapkan, karena telah tumbuh sekian persen per tahun. Peryataan ini tidaklah salah, namun tidak menunjukan seluruh kondisi riil yang ada.

Sumber:buku Ekonomi Indonesia di Mata Anak Muda UI

Jumat, 22 April 2011

Tulisan I (Kemiskinan)

KEMISKINAN DI INDONESIA
Pengertian Kemiskinan
Kemiskinan adalah keadaan dimana terjadi ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti makanan , pakaian , tempat berlindung, pendidikan, dan kesehatan. Kemiskinan dapat disebabkan oleh kelangkaan alat pemenuh kebutuhan dasar, ataupun sulitnya akses terhadap pendidikan dan pekerjaan. Kemiskinan merupakan masalah global. Sebagian orang memahami istilah ini secara subyektif dan komparatif, sementara yang lainnya melihatnya dari segi moral dan evaluatif, dan yang lainnya lagi memahaminya dari sudut ilmiah yang telah mapan.
Kemiskinan dipahami dalam berbagai cara. Pemahaman utamanya mencakup:
·         Gambaran kekurangan materi, yang biasanya mencakup kebutuhan pangan sehari-hari, sandang , perumahan, dan pelayanan kesehatan. Kemiskinan dalam arti ini dipahami sebagai situasi kelangkaan barang-barang dan pelayanan dasar.
·         Gambaran tentang kebutuhan sosial, termasuk keterkucilan sosial, ketergantungan, dan ketidakmampuan untuk berpartisipasi dalam masyarakat. Hal ini termasuk pendidikan dan informasi . Keterkucilan sosial biasanya dibedakan dari kemiskinan, karena hal ini mencakup masalah-masalah politik dan moral, dan tidak dibatasi pada bidang ekonomi.
·         Gambaran tentang kurangnya penghasilan dan kekayaan yang memadai. Makna "memadai" di sini sangat berbeda-beda melintasi bagian-bagian politik dan ekonomi di seluruh dunia.
Mengukur kemiskinan
Kemiskinan bisa dikelompokan dalam dua kategori , yaitu Kemiskinan absolute dan Kemiskinan relatif. Kemiskinan absolut mengacu pada satu set standard yang konsisten , tidak terpengaruh oleh waktu dan tempat / negara. Sebuah contoh dari pengukuran absolut adalah persentase dari populasi yang makan dibawah jumlah yg cukup menopang kebutuhan tubuh manusia (kira kira 2000-2500 kalori per hari untuk laki laki dewasa).
Bank Dunia mendefinisikan Kemiskinan absolute sebagai hidup dg pendapatan dibawah USD $1/hari dan Kemiskinan menengah untuk pendapatan dibawah $2 per hari, dg batasan ini maka diperkiraan pada 2001 1,1 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $1/hari dan 2,7 miliar orang didunia mengkonsumsi kurang dari $2/hari.Proporsi penduduk negara berkembang yang hidup dalam Kemiskinan ekstrem telah turun dari 28% pada 1990 menjadi 21% pada 2001.Melihat pada periode 1981-2001, persentase dari penduduk dunia yang hidup dibawah garis kemiskinan $1 dolar/hari telah berkurang separuh. Tetapi , nilai dari $1 juga mengalami penurunan dalam kurun waktu tersebut.
Meskipun kemiskinan yang paling parah terdapat di dunia bekembang, ada bukti tentang kehadiran kemiskinan di setiap region. Di negara-negara maju, kondisi ini menghadirkan kaum tuna wisma yang berkelana ke sana kemari dan daerah pinggiran kota dan ghetto yang miskin. Kemiskinan dapat dilihat sebagai kondisi kolektif masyarakat miskin, atau kelompok orang-orang miskin, dan dalam pengertian ini keseluruhan negara kadang-kadang dianggap miskin. Untuk menghindari stigma ini, negara-negara ini biasanya disebut sebagai negara berkembang.

Diskusi tentang kemiskinan

Kemiskinan dipelajari oleh banyak ilmu, seperti ilmu sosial, ekonomi, dan budaya.
·         Dalam ekonomi, dua jenis kemiskinan dipertimbangkan: kemiskinan absolute dan relative.
·         Dalam politik, perlawanan terhadap kemiskinan biasanya dianggap sebagai tujuan sosial dan banyak pemerintahan telah berupaya mendirikan institusi atau departemen. Pekerjaan yang dilakukan oleh badan-badan ini kebanyakan terbatas hanya dalam sensus dan pengidentifikasian tingkat pendapatan di bawah di mana warga negara dianggap miskin. Penanggulangan aktif termasuk rencana perumahan, pensiun sosial, kesempatan kerja khusus, dll. Beberapa ideologi seperti Marxisme menyatakan bahwa para ekonomis dan politisi bekerja aktif untuk menciptakan kemiskinan. Teori lainnya menganggap kemiskinan sebagai tanda sistem ekonomi yang gagal dan salah satu penyebab utama kejahatan.
·         Dalam hukum, telah ada gerakan yang mencari pendirian "hak manusia" universal yang bertujuan untuk menghilangkan kemiskinan.
·         Dalam pendidikan, kemiskinan memengaruhi kemampuan murid untuk belajar secara efektif dalam sebuah lingkungan belajar. Terutama murid yang lebih kecil yang berasal dari keluarga miskin, kebutuhan dasar mereka seperti yang dijelaskan oleh Abraham Maslow dalam hirarki kebutuhan Maslow; kebutuhan akan keamanan dan rumah yang stabil, pakaian, dan jadwal makan yang teratur membayangi kemampuan murid-murid ini untuk belajar. Lebih jauh lagi, dalam lingkungan pendidikan ada istilah untuk menggambarkan fenomen "yang kaya akan tambah kaya dan yang miskin bertambah miskin" (karena berhubungan dengan pendidikan, tetapi beralih ke kemiskinan pada umumnya) yaitu efek Matthew.
Perdebatan yang berhubungan dalam keadaan capital manusia dan capital individual seseorang cenderung untuk memfokuskan kepada akses capital instructional dan capital social yang tersedia hanya bagi mereka yang terdidik dalam sistem formal.

Kemiskinan dunia

Deklarasi Copenhagen menjelaskan kemiskinan absolut sebagai "sebuah kondisi yang dicirikan dengan kekurangan parah kebutuhan dasar manusia, termasuk makanan, air minum yang aman, fasilitas sanitasi, kesehatan, rumah, pendidikan, dan informasi."
Bank Dunia menggambarkan "sangat miskin" sebagai orang yang hidup dengan pendapatan kurang dari AS$1 per hari, dan "miskin" dengan pendapatan kurang dari AS$ 2 per hari. Berdasarkan standar tersebut, 21% dari penduduk dunia berada dalam keadaan "sangat miskin", dan lebih dari setengah penduduk dunia masih disebut "miskin", pada 2001.
Proyek Borgen menunjuk pemimpin Amerika memberikan AS$230 milyar per tahun kepada kontraktor militer, dan hanya AS$19 milyar yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan Perkembangan Milenium PBB untuk mengakhiri kemiskinan parah sebelum 2025.

Penyebab kemiskinan

Kemiskinan banyak dihubungkan dengan:
  • penyebab individual, atau patologis, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari perilaku, pilihan, atau kemampuan dari si miskin;
  • penyebab keluarga, yang menghubungkan kemiskinan dengan pendidikan keluarga;
  • penyebab sub-budaya (subcultural), yang menghubungkan kemiskinan dengan kehidupan sehari-hari, dipelajari atau dijalankan dalam lingkungan sekitar;
  • penyebab agensi, yang melihat kemiskinan sebagai akibat dari aksi orang lain, termasuk perang, pemerintah, dan ekonomi;
  • penyebab struktural, yang memberikan alasan bahwa kemiskinan merupakan hasil dari struktur sosial.
Meskipun diterima luas bahwa kemiskinan dan pengangguran adalah sebagai akibat dari kemalasan, namun di Amerika Serikat (negara terkaya per kapita di dunia) misalnya memiliki jutaan masyarakat yang diistilahkan sebagai pekerja miskin; yaitu, orang yang tidak sejahtera atau rencana bantuan publik, namun masih gagal melewati atas garis kemiskinan.

Menghilangkan kemiskinan

Tanggapan utama terhadap kemiskinan adalah:
  • Bantuan kemiskinan, atau membantu secara langsung kepada orang miskin. Ini telah menjadi bagian pendekatan dari masyarakat Eropa sejak zaman pertengahan.
  • Bantuan terhadap keadaan individu. Banyak macam kebijakan yang dijalankan untuk mengubah situasi orang miskin berdasarkan perorangan, termasuk hukuman, pendidikan, kerja sosial, pencarian kerja, dan lain-lain.
  • Persiapan bagi yang lemah. Daripada memberikan bantuan secara langsung kepada orang miskin, banyak negara sejahtera menyediakan bantuan untuk orang yang dikategorikan sebagai orang yang lebih mungkin miskin, seperti orang tua atau orang dengan ketidakmampuan, atau keadaan yang membuat orang miskin, seperti kebutuhan akan perawatan kesehatan.


Tugas III (semester 2)

1.       Jelaskan dengan singkat mengenai :
a.      Neraca Pembayaran adalah suatu ikhtisar yang meringkas transaksi-transaksi antara penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain selama jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
b.     Modal asing adalah modal yang bersumber dari luar perusahaan yang dapat digunakan untuk melakukan proses produksi.
c.      Hutang luar negeri adalah sebagian dari total utang suatu negara yang diperoleh dari para kreditor di luar negara tersebut.

2.  Sebutkan dan jelaskan manfaat modal asing! Minimal 5
a.      penurunan biaya bunga APBN
Dengan modal asing dapat mengurangi biaya bunga APBN yaitu dimana modal asing dapat memberikan pembangunan bagi negara dengan tanpa menggunakan APBN . Bahkan dengan hasil pembangunan ini dapat membiayai bunga APBN .
b.     sumber investasi swasta
Nilai investasi berkembang mengikuti pertumbuhan ekonomi . Dan dapat mendatangkan lebih investasi swasta terutama dari investor – invertor asing .
c.      pembiayaan Foreign Direct Investment (FDI)
FDI kini memainkan peran penting dalam proses internasionalisasi bisnis. Perubahan yang sangat besar telah terjadi baik dari segi ukuran, cakupan, dan metode FDI dalam dekade terakhir. Perubahan-perubahan ini terjadi karena perkembangan teknologi, pengurangan pembatasan bagi investasi asing dan akuisisi di banyak negara, serta deregulasi dan privatisasi di berbagai industri. Berkembangnya sistem teknologi informasi serta komunikasi global yang makin murah memungkinkan manajemen investasi asing dilakukan dengan jauh lebih mudah .
d.      kedalaman pasar modal
Dengan adanya modal asing ini dapat menambah banyaknya pasar modal baik khususnya bagi dalam negri . Dimana dengan bertambahnya pasar modal semakin banyak investor dan juga bisa meninggikan harga saham dalam negri .
e.      mampu menggerakkan kegiatan ekonomi yang lesu akibat kurangnya modal (saving investment gap) bagi pelaksanaan pembangunan ekonomi.
f.      Usaha dapat berkembang
dengan menggunakan pinjaman dari asing karena menggunakan modal dari asing yang mana dapat menimbulkan motivasi dari pihak manajemen untuk mengerjakan usaha dengan sungguh-sungguh .

3.  Sebutkan dan jelaskan dampak hutang luar negeri terhadap pembangunan di Indonesia !
a.      Rakyat pembayar pajak, yang saat ini sedang gencar-gencarnya digalakan oleh Ditjen Pajak, harus merelakan sebagian pajak yang dibayarkannya dipergunakan oleh pemerintah untuk membayar cicilan pokok utang dan bunga. Selain itu, rakyat kebanyakan juga harus ikhlas dan sabar membiarkan pemerintah memotong jatah dana pembangunan dari APBN, yang semestinya bisa untuk membiayai program peningkatan kesejahteraan rakyat, terpaksa harus digunakan untuk membayar cicilan pokok utang dan bunga.
b.     Utang akan menyuburkan lahan korupsi bagi aparat birokrasi terkait di negara penerima. Beberapa studi membuktikan bahwa semakin besar utang suatu negara, semakin besar pula potensi korupsi dan penyalahgunaan dana utang tersebut. Bank Dunia dan IMF semestinya tahu dan melakukan tindakan pencegahan bahwa sebagian utang yang disalurkan keIndonesia selama ini telah mengalami kebocoran. Namun, kedua lembaga keuangan internasional tersebut belum berbuat sesuatu dan terkesan membiarkan saja dana yang diutangkan itu bocor dalam penggunaannya. Sikap apatis Bank Dunia dan IMF ini memunculkan tuduhan dari kritikus kebijakan bahwa selama ini tujuan memberikan utang kepada Indonesia semata-mata untuk meraup pendapatan bunga sebesar-besarnya, tanpa ambil pusing dana yang diutangkan itu mengalami kebocoran.
c.      Rendahnya nilai tambah utang sebagai sumber dana pembangunan. Dalam setiap pemberian utang kepada Indonesia, negara-negara kreditor selalu memaksakan persyaratan yang memberatkan dan kadang merugikan bangsa Indonesia. Pada setiap pemberian utang, negara-negara kreditor selalu mewajibkan Indonesia untuk membeli barang-barang dan penggunaan konsultan dari negara-negara kreditor, yang tarifnya relatif tinggi. Dampaknya, terjadilah arus pembalikan dana yang cukup besar dari Indonesia kembali ke negara-negara kreditor, tanpa memberikan nilai tambah yang signifikan bagi program pembangunan di Indonesia.
d.      Ancaman terampasnya kedaulatan dalam pengelolaan ekonomi Indonesia. Negara-negara kreditor, melalui Bank Dunia dan IMF, juga biasanya mendesak agar dalam perumusan setiap kebijakan ekonomi Indonesia yang sesuai dengan keinginan mereka, yang tentunya kebijakan tersebut disesuaikan dengan kepentingan negara-negara kreditor. Rumusan kebijakan ekonomi yang seolah-olah “dipaksakan” oleh Bank Dunia dan IMF selama ini dapat berdampak terhadap berkurangnya kemandirian ekonomi Indonesia, yang dapat bermuara pada proses penyengsaraan terhadap rakyat kebanyakan. “Pemaksaan” kehendak IMF untuk lebih menekankan pada pemberlakuan ekonomi pasar bebas dalam perumusan kebijakan penghapusan subsidi secara total dan privatisasi BUMN sering dianggap sebagai pengikisan kemandirian ekonomi bangsa.
e.      Mengakibatkan pembangunan yg tidak berkesinambungan
f.      Memicu pemberhentian pembngunan di tengah jalan ” tidak diteruskan” karena jika sudah jatuh tempo. maka biaya untuk alokasi pmbngunan otomatis tidak ada
g.      Pembngunan yg terkesan setengah – setengah , hal itu biasa terjadi karena jumlah utang yg di pinjam tidak sebanding dengan rencana pembngunan yg memakan biaya tidak sedikit..
h.      Dapat menurun kan kualitas pembngunan itu sendiri ,artinya dengan bugdet dengan dana HUTANG pasti pihak pemborong akan mencari bahan bngunan yg terjangkau & murah pastinya tidak memperhatikan kualitas ,, dan itu berbahaya ..
i.        Yang  paling terlihat dampak dari itu semua adalah Pembangunan yg tidak merata antar daerah . Dapat dipastikan dana hasil hutang itu ada batasannya artinya tidak terlalu besar . jadi mau tidak mau indonesia harus memprioritaskan pembngunan di suatu daerah . mengingat daerah indonesia yang berpulau – pulau , jadi tidak mungkin dana tersebut bisa membangun secara bersamaan

Sumber: