Halaman

Selasa, 21 Desember 2010

Tugas VIII

1.     Dalam dunia bisnis internasional, dikenal 2 transaksi bisnis internasional yaitu :
a.      Perdagangan Internasional ( International Trade )
b.      Pemasaran Internasional ( International Marketing)
Jelaskan perbedaan kedua transaksi tersebut !
Jawab     :
v  Perdagangan Internasional ( International Trade ) adalah perdagangan yang dilakukan oleh penduduk suatu negara dengan penduduk negara lain atas dasar kesepakatan bersama. Penduduk yang dimaksud dapat berupa antarperorangan (individu dengan individu), antara individu dengan pemerintah suatu negara atau pemerintah suatu negara dengan pemerintah negara lain.

v  Sedangkan Pemasaran Internasional ( International Marketing) adalah Penerapan konsep, prinsip, aktifitas, dan proses manajemen pemasaran dalam rangka penyaluran ide, barang atau jasa perusaahaan kepada konsumen di berbagai Negara.

2.     Coba jelaskan bagaimana tahap-tahap dalam memasuki bisnis internasional, dimulai dengan tahapan yang paling sederhana yang tidak mengandung resiko sampai dengan tahapan yang paling kompleks dan mengandung resiko bisnis yang tinggi ! sebutkan 6
Jawab     :
1. Tahap Ekspor Insidentil ( Incident Export) adalah kejadian yang terjadi di ekspor misalnya adanya orang asing yang membeli produk dalam negeri kemudian orang asing itu mengirim barang tersebut ke negerinya lagi.
   
2. Tahap Ekspor Aktif ( Active Export) adalah terjadinya hubungan bisnis internasional yang terjadi secara rutin dan terus menerus bahkan transaksi tersebut semakin lama akan mengalami perkembangan. Keaktifan hubungan transaksi bisnis tersebut ditandai pada umumnya dengan semakin berkembangnya jumlah maupun jenis komoditi perdagangan Internasional tersebut.

3. Tahap Penjualan Lisensi ( Licensing ) adalah negara pendatang menjual lisensi atau merek dari produknya kepada negara penerima yang dijual adalah hanya merek atau lisensinya saja, sehingga negara penerima dapat melakukan manajemen yang cukup luas terhadap pemasaran maupun proses produksinya termasuk bahan baku serta peralatannya. Untuk keperluan pemakaian lisensi tersebut maka perusahaan dan negara penerima harus membayar fee atas lisensi itu kepada perusahaan asing tersebut.
4. Tahap Franchising adalah Tahap berikutnya merupakan tahap yang lebih aktif lagi yaitu perusahaan di suatu negara menjual tidak hanya lisensi atau merek dagangnya saja akan tetapi lengkap dengan segala atributnya termasuk peralatan, proses produksi, resep-resep campuran proses produksinya, pengendalian mutunya, pengawasan mutu bahan baku maupun barang jadinya, serta bentuk pelayanannya.
5.  Tahap Pemasaran di Luar Negeri adalah Bentuk ini akan memerlukan intensitas manajemen serta keterlibatan yang lebih tinggi karena perusahaan pendatang (Host Country) haruslah betul-betul secara aktif dan mandiri untuk melakukan manajemen pemasaran bagi produknya itu di negeri asing (Home Country).
6. Tahap Produksi dan Pemasaran di Luar Negeri (Total International Business) adalah Tahap Bentuk inilah yang menimbulkan MNC (Multy National Corporation) yaitu Perusahaan Multi Nasional. Dalam tahap ini perusahaan asing datang dan mendirikan perusahaan di negeri asing itu lengkap dengan segala modalnya, Ialu melakukan proses produksi di negeri itu, kemudian menjuaI hasil produksinya itu di negeri itu juga dan bahkan mungkin lalu dijualnya ke negara asing lagi sebagai ekspor dari negeri penerima tersebut. Bentuk ini memiliki unsur positif bagi negara yang sedang berkembang karena dalam bentuk ini negara penerima tidak perlu menyediakan modal yang sangat banyak untuk mendirikan pabrik tersebut yang pada umumnya negara berkembang masih miskin dana untuk pembangunan bangsanya.

3.     Hambatan apa saja dalam memasuki bisnis internasional ?
    Jawab :
    1. Batas Perdagangan
2. Perbedaan bahasa, social, budaya/cultural
3. Kondisi politik dan hokum/perundang-undangan
4. Hambatan operasional
5. Tarif Bea Cukai
Sumber :

Tulisan V

Karakteristik orang yang pedenya rendah

1.      Tidak memiliki sesuatu (keinginan, tujuan, target) yang diperjuangkan secara sungguh-sungguh
2.      Tidak memiliki keputusan melangkah yang decisive (mengambang)
3.      Mudah frustasi atau give up ketika mengatasi masalah atau kesulitan
4.      Kurang termotivasi untuk maju
5.      Sering gagal dalam menyempurnakan tugas-tugas atau tanggung jawab (tidak optimal)
6.      Canggung dalam menghadapi orang
7.   Tidak bisa mendemostrasikan kemampuan berbicara dan kemampuan mendengarkan yang meyakinkan
8.      Sering memiliki harapan yang tidak realistis
9.      Terlalu perfeksionis
10.  Terlalu sensitive (perasaan)

7 Langkah Menjadi Orang Yang Bahagia

  1. Bebaskan hatimu dari kebencian
  2. Bebaskan pikiranmu dari kekhawatiran
  3. Hiduplah dengan sederhana
  4. Jangan berharap terlalu banyak
  5. Ulurkan tanganmu untuk memberi orang lain
  6. Isilah hidupmu dengan cinta
  7. Lakukan sesuatu seperti kamu mengharapkan orang lain yang melakukan

(H. C. Mattern)

Tips Menjadi Orang Berpikir Positif

1.      Bertindaklah, Berjalanlah, Berbicaralah, dan Berpikirlah seperti orang yang anda kagumi
2.      Tanamkan dalam-dalam pikiran positif dan bentuk-bentuk keberhasilan dalam benak anda
3.      Pancarkanlah sikap yang baik, perasaan yang baik, keyakinan yang kuat dan tujuan hidup yang jelas
4.      Perlakukanlah setiap orang yang anda jumpai sebagai orang yang paling penting di dunia
5.      Usahakan orang yang anda temui merasa dibutuhkan, diperlukan, dan dihargai
6.      Lihatlah hal-hal yang baik dalam diri setiap orang
7.      Jangan ungkapkan kondisi kesehatan anda kecuali anda sedang dalam kondisi yang baik
8.      Carilah yang terbaik dari setiap gagasan baru
9.      Hindari hal-hal yang sepele/sia-sia

Tips untuk mengharmoniskan hubungan

  1. Sadarilah bahwa setiap orang itu punya keunikan dan punya cara hidup yang berbeda
  2. Pilihlah pendekatan yang cocok, sikap yang cocok, dan bahasa yang cocok, untuk orang yang cocok
  3. Jadilah orang yang terbuka dan jadilah orang yang mudah didekati
  4. Bukalah kemudahan bagi orang lain untuk bekerja sama atau membicarakan sesuatu dengan anda
  5. Latihlah kemampuan anda dalam mendengarkan orang lain
  6. Berbagilah informasi dengan orang lain
  7. Pahamilah isyarat non verbal
  8. Perbanyak melakukan kontak dengan orang lain
  9. Latihlah kemampuan anda dalam menyikapi ucapan yang menyakitkan, opini yang menyudutkan dan opini yang negative
  10. Belajarlah bagaimana membuat kalimat-kalimat yang bisa mencairkan situasi
  11. Tingkatkan kemampuan anda dalam menyikapi orang yang menganggap anda musuh
  12. Atasi konflik yang muncul dengan cara-cara yang konstruktif dan positif
  13. Amati prilaku orang lain lalu jadikanlah pelajaran
  14. Hindari menghabiskan waktu untuk sebuah pertemuan yang tidak ada manfaatnya
  15. Hindari munculnya kesan bahwa anda adalah orang yang mudah dipengaruhi
  16. Hindari munculnya kesan narsis pada diri anda (takut dibenci orang, maupun dipuji terus, dan lain-lain)
  17. Hindari munculnya kesan bahwa anda mudah dijadikan korban (the victim)

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir positif oleh A.N Ubaedy (human Learning specialist)

Tulisan IV


Adakah solusi untuk berpikir positif ?

            Adakah solusi total untuk menjadi orang yang berpikir positif ? kalau yang kita maksudkan solusi total itu adalah hasil yang final, tentu jawabannya tidak ada. Tapi bila solusi yang kita maksudkan itu adalah proses yang perlu kita jalankan secara berkelanjutan, tentu jawabannya ada. Kenapa solusinya harus berupa proses yang berkelanjutan ?
            Alasannya sederhana. Berdasarkan praktek yang kita alami sehari-hari, muatan negative yang masuk ke dalam pikiran kita itu adakalanya ciptaan kita sendiri dan adakalanya ciptaan kita sendiri dan adakalanya berupa kiriman dari orang lain atau keadaan. Ini berarti bahwa ada muatan yang masih berada dalam control kita dan ada muatan yang memang di luar control kita.
            Muatan yang ada di dalam control kita adalah muatan pikiran yang kita ciptakan sendiri. Sedangkan muatan yang tidak berada di dalam control kita adalah muatan yang dikirim orang lain, dalam bentuk apapun, kedalam diri kita. Karena ruang pikiran kita sangat rentan kemasukan muatan negative kapan saja dan dimana saja, maka yang dibutuhkan disini adalah solusi dalam bentuk proses. Seperti yang dikatakan dimuka, tidak ada orang yang ruang pikirannya hanya memuat muatan-muatan positif 100% atau muatan negative 100%.
            Lalu proses seperti apa yang bisa diandalkan menjadi solusi ini? Intinya ada dua. Pertama, kita selalu sadar untuk menciptakan muatan positif, dan kedua, kita selalu sadar untuk membersihkan ruang pikiran itu dari muatan-muatan negative yang mungkin berasal dari kita sendiri atau berasal dari luar (orang lain).
            Sebagai contoh  misalnya ada orang mengatakan bahwa kita ini adalah orang yang tidak punya kelebihan apa-apa, gagal terus dalam usaha atau tidak punya bakat untuk berhasil (berprestasi)di bidang kita. Jika ucapan ini yang kita pedomani dan yang kita yakini secara hidup mati, maka kemungkinan besar ucapan ini akan menjadi kenyataan di dalam diri kita. Tapi bila kita berhasil mengeliminasi ucapan negative seperti itu atau menerimanya sebagai tantangan untuk membuktikan diri dengan yang sebaliknya, kemungkinan besar ucapan itu tidak menjadi kenyataan.
“Jangan engkau dekati orang yang selalu menggembosi semangatmu” (Mark Twin)

            Kapankah kita mulai sadar untuk melakukan perlawanan mental terhadap opini-opini negative itu? Kapankah kita mulai sadar untuk menciptakan pikiran positif dan membuang pikiran negatif itu? Jawabannya adalah ketika sudah mulai muncul dorongn untuk berubah ke arah yang lebih baik. Jika dorongan itu kuat, maka kita akan menjadi orang yang sangat sensitive terhadap muatan pikiran yang negative dan yang positif.
Dorongan untuk berubah inin menjadi kunci utama. Mungkin ada pertanyaan, bukankah semua orang di dunia ini pada dasarnya sudah memiliki dorongan untuk berubah ke arah yang lebih baik? Memang benar bahwa semua orang didunia ini memiliki dorongan untuk berubah. Tetapi, yang dimaksudkan dorongan disini bukan sembarang dorongan, melainkan dorongan yang benar-benar dorongan atau dorongan yang menyandarkan kita untuk melakukan sesuatu guna mewujudkan perubahan.
            Kalau membaca penjelasan Dave Francis & Mike Woodcock (1982), tentang kesungguhan, disana ada tiga tingkatan atau level. Level pertama adalah supervisial (keinginan mulut atau permukaan). Misalnya saja kita sudah menyusun rencana sedemikian rupa namun keinginan kita untuk menjalankannya setengah-setengah atau sama sekali tidak dijalankan. Keinginan demikian pantas disebut keinginan mulut atau keinginan yang levelnya masih dipermukaan. Selain bisa dilakukan semua orang, keinginan seperti ini memang gratis.
            Level keingina kedua disebut underlined. Kita sudah membuat perencanaan dengan alasan-alasan yang cukup mendasar, dan sudah menjalankannya, namun masih kurang sustainable (berkelanjutan). Biasanya, keinginan demikian ini lebih sering berupa keinginan-keinginan yang sifatnya adaptif terhadap masalah. Kita ingin belajar lebih niat karena nilai kita jeblok, kita ingin jadi orang kaya saat terdesak, kita ingin mencari informasi lowongan mati-matian karena mau di PHK, kita ingin mendirikan partai karena sedang musim,dan lain-lain.
            Level keinginan ketiga disebut sustainable (berkelanjutan). Kita punya keinginan, lalu kita perjuangkan sepenuh hati secara terus-menerus dengan alasan-alasan yang cukup mendasar. Dalam bahasa agama, ada dorongan atau keinginan positif yang sudah mendapatkan pahala. Tetapi ada juga yang tidak. Keinginan positif seperti apa yang sudah mendapatkan pahala dan yang belum layak dapat pahala? Keinginan positif yang sudah mendapatkan pahala adalah bentuk keinginan yang kuat dan sudah kita siapkan pelaksanaannya. Sedangkan keinginan positif yang belum mendapatkan pahala adalah berbagai bentuk keinginan yang hanya melintas dipikiran atau keinginan mulut saja.
            Kembali ke pokok persoalan bahwa yang di maksud dorongan untuk berubah itu adalah keinginan yang kuat dan sudah kita persiapkan pelaksanaannya, bukan semata keinginan mulut atau keinginan yang hanya melintas. Jika keinginan yang kuat itu sudah muncul, maka kita akan belajar untuk menciptakan pikiran positif dan belajar untuk menciptakan perlawanan mental terhadap pikiran negative.

“perubahan adalah hasil akhir dari pembelajaran. Perubahan melibatkan tiga langkah. Pertama, ketidakpuasan. Kedua keputusan untuk berubah dan ketiga, kesadaran untuk mengabdikan diri pada proses perkembangan.”
(Dr. Felice Leonardo Buscaglia, American Professor of education)

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir positif oleh A.N Ubaedy (human Learning specialist)

Tulisan III


Are You Negative Thinker ?

                Berfikir positif itu memiliki skala, skala yang paling rendah adalah ketika kata hanya memiliki pemikiran, opini, pandangan, atau kesimpulan positif terhadap diri sendiri, terhadap orang lain, atau terhadap Tuhan. Skala yang lebih atas adalah ketika kita sudah memilikinya dan menggunakannya dalam praktek hidup dalam bentuk pelaksanaan agenda-agenda positif untuk merealisasikan tujuan-tujuan positif. Ini misalnya kita berkesimpulan bahwa diri kita ini sudah dibekali keunggulan alamiah yang membedakan kita dengan orang lain, entah itu kita menyebutnya bakat, kelebihan, atau apapun.
Dengan berbekal kesimpulan itu lita harus menjalankan agenda-agenda konkret untuk merealisasikan dengan melakukan sesuatu sampai benar-benar menghasilkan prestasi. Kalau kita berkesimpulan punya bakat menulis, lalu kita melatihnya, mengasahnya, dan merealisasikannya ke dalam bentuk karya tulis, maka kita telah berfikir positif pada diri sendiri.
                Skala yang lebih tinggi lagi adalah ketika kita sudah memiliki, menggunakan, dan menjaga stabilitasnya dengan cara menciptakan pikitan positif secara terus-menerus dan melawan datangnya pikiran negative secara terus menerus juga. Artinya, orang yang sudah smpai skala ini telah terbiasa menggunakannya atau tidak. Ini bias dilihat dari tradisi kehidupan orang-orang berprestasi di dunia ini. Mereka tidak sekedar punya kesimpulan positif, tidak sekedar menjalankan agenda positif, tetapi juga bisa menjaga irama hidupnya supaya tetap positif terus atau berkarya terus.
lalu kita melatihnya, mengasahnya, dan merealisasikannya ke dalam bentuk karya tulis, maka kita telah berfikir positif pada diri sendiri.
                Skala yang lebih tinggi lagi adalah ketika kita sudah memiliki, menggunakan, dan menjaga stabilitasnya dengan cara menciptakan pikitan positif secara terus-menerus dan melawan datangnya pikiran negative secara terus menerus juga. Artinya, orang yang sudah smpai skala ini telah terbiasa menggunakannya atau tidak. Ini bias dilihat dari tradisi kehidupan orang-orang berprestasi di dunia ini. Mereka tidak sekedar punya kesimpulan positif, tidak sekedar menjalankan agenda positif, tetapi juga bias menjaga irama hidupnya supaya tetap positif terus atau berkarya terus.
                Nah, jika pikiran positif itu memiliki skala, demikian juga dengan orang yang berfikir negative. Skala yang paling rendah adalah ketika kita hanya memasukkan atau memiliki pikiran negative. Skala yang lebih atas adalah ketika kita menggunakan pikiran negative itu dalam praktek. Sedangkan skala yang lebih atas lagi adalah ketika kita terbiasa memiliki dan menggunakannya serta menolak untuk membersihkannya dalam waktu yang sudah continue atau menjadi kebiasaan.
Dari kasus sejumlah kejahatan yang saya amati, mereka melakukan kejahatan bukan karena secara spontan ingin melakukan kejahatan. Orang sanggup melakukan kejahatan yang spektakuler karena sebuah proses negative di dalam batin yang tidak segera dibersihkan. Seperti kata, Dr. Maxwell Maltz, pakar psikologi, tindakan manusia itu sangat erat dengan bagaimana orang itu menilai dirinya. Orang yang sanggup melakukan kejahatan umumnya memiliki penilaian diri yang negative.
                Di bawah ini ada berbagai bentuk penilaian diri negative yang perlu dilawan. Beberapa kategori dibawah ini sifatnya hanya untuk memudahkan kita dalam membaca diri sendiri. Kita mulai dari kategori penilaian yang terkait dengan apakah kita termasuk orang yang rendah diri atau bukan. Bentuk penilaian diri yang perlu dilawan antara lain :
  • Saya tidak punya bakat, tidak punya kelebihan apa-apa
  • Saya orangnya tidak berdisiplin dan tidak punya semangat
  • Langkah saya gagal total
  • Saya sudah tidak berharga lagi
  • Saya telah kehabisan kesabaran
  • Saya tidak akan mampu meraih apa yang saya inginkan
  • Saya terlahir untuk kalah, untuk menanggung penderitaan
  • Saya tidak memiliki alasan yang kuat untuk bersyukaur atau mensyukuri nikmat Tuhan
  • Saya tidak pernah yakin akan keberhasilan saya
  • Saya sering melakukan kesalahan yang fatal
  • Saya tidak akan mencoba sesuatu yang baru karena takut gagal
  • Pasti saya akan gagal lagi
“Baik anda berpikir punya kelebihan atau tidak, itu pilihan anda.”

                Kategori berikutnya adalah penilaian yang terkait dengan apakah kita termasuk orang yang optimis atau pesimis dalam menghadapi kehidupan, apakah kita sudah apatis melihat dunia ini atau sebaliknya. Bentuk penilaian yang perlu dilawan adalah :

·         Dunia ini akan selalu cenderung memburuk
·         Dimanapun di dunia ini tidak akan ada peluang untuk maju bagi orang seperti saya
·         Hidup ini sepertinya sering memperlakukan saya secara tidak fair
·         Hidup ini isinya adalah penderitaan dan akhirnya adalah kematian
·         Saya tidak punya apa-apa untuk maju
·         Tak ada manusia yang akan mau pedulu dengan nasib saya

“orang optimis melihat cahaya di ujung kegelapan, sementara orang pesimis melihat kegelapan di balik kegelapan dan dibalik cahaya.”

                Kategori berikutnya adalah terkait dengan apakah kita punya perasaan positif terhadap diri sendiri ataukah sebaliknya, apakah kita termasuk orang yang bahagia dengan diri kita atau orang yang nestapa.Bentuk perasaan yang perlu dilawan adalah :

  • Orang lain sepertinya jauh lebih sukses daripada saya
  • Saya merasa tidak pantas menjadi orang yang seperti saya inginkan
  • Saya malas melakukan apapun atau saya merasa tidak tertarik dengan apapun
  • Saya lebih sering jengkel pada diri sendiri, pada orang lain, atau pada keadaan
  • Saya tidak bisa mengontrol diri saya
  • Saya tidak bisa hidup tanpa dirinya atau lebih baik mati saja hidup tanpa dirinya
  • Hidup saya tidak ada artinya lagi

“Banyak hal yang tidak bisa kita lakukan secara optimal hanya karena kita sedang menyimpan perasaan negative”

Cara instan menghentikan pikiran negative :
ü      Hentikan opini negative
ü      Gantilah opini negative dengan opini positif
ü      Tanyakan kepada diri anda tentang apa untungnya memiliki opini negative
ü      Membaca buku yang bisa mendidik kita untuk beropini positif
ü      Bergaul dengan orang-orang yang punya opini positif

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir positif oleh A.N Ubaedy (human Learning specialist)

Senin, 20 Desember 2010

Tulisan II


Positif Hubungan dengan Realitas

Seluruh keadaan personal yang meliputi kita itulah realitas kita. Realitas ini berbeda dengan fakta. Fakta adalah apa yang kita temukan dari realitas. Pada dasarnya,s etiap orang memiliki dua realitas bisa juga dikatakan bahwa realitas seseorang itu memiliki dua lapisan. Lapisan permukaan adalah realitas yang terbentuk kalkulasi atau logika yang riil. Misalnya saja seseorang pedagang. Jika ia mengambil barang dengan harga seratus dan menjualnya dengan harga dua ratus maka ia untung seratus. Ini realitas permukaan, logis, dan riil (kuantitatif)
Sedangkan lapisan berikutnya adalah realitas ghaib atau realitas ayng terbentuk dari kalkulasi yang “byond logic”, tidak bisa di kuantitatifkan, atau dirasionalkan. Biasanya, ini terkait dengan kualitas hidup seseorang. Misalnya saja dikatakan bahwa sodakoh atau kebiasaan member bantuan dan pertolongan kepada orang lain itu akan membuat hidup kita mudah atau lapang (dekat dengan sumber solusi). Ini terkadang tidak kita temukan penjelasan matematisnya
Contoh lainnya adalah pelanggaran terhadap hokum Tuhan. Semkain banyak pelanggaran yang kita lakukan, semakin sempitlah hidup kita. Kehidupan yang sempit ini (didatangi banyak masalah dan jauh dari sumber solusi) bisa menimpa iapun terlepas status social apa : mau kaya, mau miskini, mau berkuasa, mau jadi orang biasa, dan lain lain.
Ini terkadang tidak ditemukan penjelasan matematisnya, tapi kenyataannya ada dan mudah kita temukan. Seandainya kekayaan dan kekuasaan itu bisa menjamin kehidupan yang lapang secara mutlak, tentu tidak ada orang kaua, bergaji gede, punya bahawan banyak yang bunuh diri atau melakukan tindakan nekad yang diluar kendali akal sehat
Jadi, kehidupan yang lapang adalah kehidupan yang dekat dengan sumber solusi dan mudah mendapatkan solusi, sebaliknya kehidupan ayng sempit adalah kebidupan yang jauh dari sumber solusi, sulit mendapatkan solusi dan dekat dengan masalah. Ini umumnya terkait dengan hokum-hukum yang ada pada realitas ghaib itu.
Nah, karena watak realitas itu liat, dalam arti bisa berubah kapanpun, bisa terkadang negaif dan terkadang positif, ada yang bisa kita control dan ada yang tidak, maka disinilah kita perlu mempositifkan hubungan dengan realitas kita. Alasannya, supaya kita tidak menjadi orang yang negative gara-gara realitas yang negated, atau supaya kita teta mendapatkan balasan yang positif berdasarkan apa yang kita lakukan terhadap realitas kita.
“Begitu anda mengubah diri anda, maka realitas Anda akan berubah”
Lalu bagaimana supaya kita bisa membangun hubungan yang positif terhadap relitas kita ? sebagian langkah yang bisa kita tempuh antara lain adalah :
Pertama , ciptakan makna positif dari realitas hidup anda. Makna adalah apa yang kita pahami dari realitas itu. Perubahan seseorang tidak ditentukan oleh realitasnya, melainkan oleh makna yang ia ciptakan dari realitas itu. Seseorang pengusaha besar yang saya temui mengatakan ia menjadikan kemiskinannya di waktu kecil sebagai pemacu untuk menjadi pengusaha. Kemiskinan bisa dimaknai sebagai motivator dan bisa pula dimaknai sebagai demovator (penghancur)
Dihina orang bisa dimaknai sebagai pembangkit, tapi bisa pula dimaknai sebagai pengkancur. Terkena musibah bisa dmaknai sebagai kutukan dan bisa pula dimaknai sebagai momen yang bisa berubah ke yang lebih baik. Kaya raya bisa dimaknai sebagai kesempatan untuk sombong dan bisa pula dimaknai sebagai kesempatan untuk menambah syukur.
Makna ini bebas kita ciptakan. Realitas sendiri tidak punya makna apa apa. Karena itu, diciptakan makna positif sesuai dengan anda supaya tetap menjadi orag yang berpikir positif.
Kedua, lakukan aktivitas positif berdaasarkan makna yang kita ciptakan itu. Tentu makna saja tidak cukup untuk mengubah hidup kita. Makna yang kita ciptakan harus disertai dengan pelaksanaan agenda yang sesuai dengan makna itu. Misalnya saja kata dikatakan tidak becus menangani [ekerjaan lalu kita menjadikannya sebagai motivator untuk menjadi lebih ahli. Jika makna itu yang kita pilih, makna kita perlu agenda riil yang bisa kita jalankan untuk menaikan keahlian kita. Kalau hanya makna yang kita miliki, itu baru angka nol. Nol memang angka, tetapi kalau hanya nol, nilainya kosong.
Ketiga, perbaikin model pernerimaan terhadap realitas. Model penerimaan seseorang terhadap realitas itu pada dasarnya bsai diibagi menajdi tidak berikut :
-          Menerima untuk menerima (pasrah pada keadaan, pasrah kalah, membiarkan realitas, dst)
-          Menerima dengan cara mengingkari (menolak realitas, ingin melarikan diri dari realitas, benci terhadap keadaan diri sendiri, konflik batin, dst)
-          Menerima untuk memperbaiki (menerima dengan kesadaran untuk mengubah atau memperbaiki)
Model penerimaan yang manakan yang paling positif ? berdasarkan akal sehat yang paling positif adalah yang terakhir, menerima untuk mengubahnya menjadi lebih baik. Kalau kita hanya menerima untuk menerima (pasrah lemah), kita akan kalah oleh realitas. Orang yang kalah tidak mungkin bisa memiliki hubungan yang positif. Begitu juga kalau kita menerima dengan mengingkarinya. Ini akan menimbulkan konflik batin. Kita berperang dengan diri kita sendiri. Ini berpotensi menimbulkan kekufuran.
Keempat, hiduplah seperti orang berjalan. Jangan berkesimpulan bahwa nasib kita hari ini adalah akhir dari segala-galanya. Berfikirlah bahwa nasib yang kita aami adalah realitas yang sifatnya sementara. Maksudnya adalah agar hidup kita dinamis dan terus mengejar hal-hal yang lebih bagus. Kalau kita menjalani hidup seperti orang yang diam, atau menyimpulkan realitas kita sebagai akhir dari alngkah kita, ini bisa membuat jiwa kita mati (statis). Orang yang statis sangat sulit diharapkan punya kempuan membangun hubungan yang positif.
Kelima, lawanlah kesimpulan yang mengajak anda pesimis terhadap realitas. Terkadang ada sejumlah alas an yang membuat kita merasa benar untuk menciptakan pandangan dan harapan yang pesimis. Terutama sekali saat menghadapi realitas / nasib buruk. Tapi ini harus segera kita kembalikan pada kesadaran yang mendasar, bahwa sebenar apapun pandangan pesimis itu kita miliki, menfaatnya tidak akan lebih bagus dari pandangan yang optimis.

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir positif oleh A.N Ubaedy (Human Learning Specialist)

Tulisan I

Stres, Depresi, dan Pikiran Negatif

          Stres adalah tekanan dari luar bisa membuat seseorang merasa tertekan. Tekanan yang digolongkan dapat membuat orang stres adalah Tekanan yang sifatnya mengancam, tekanan yang sifatnya menakutkan atau mengerikan ( scare ), tekanan yang sifatnya mengkhawatirkan, tekanan yang sifatnya menyakitkan atau yang menusuk.
         Banyak penelitian yang mengungkap, stresnya sendiri tidak berbahaya. yang paling penting disini bukan soal bahaya atau tidak, melainkan bahwa stres sendiri tidak bisa di hindari dalam praktek hidup. Tidak mungkin orang hidup tanpa pernah merasakan stres.
          Lalu apa yang paling membahayakan dari stres itu ? yang paling membahayakan adalah penilaian, pemaknaan, menyikapan, dan penangannya. Karena itu, dalam berbagai literatur dikenal istilah stres positif. Ciri - ciri stres positif itu antara lain :
  • Kadarnya proporsional. Maksudnya disini adalah tidak terlalu berat dan tidak terlalu ringan.
  • Ada penyikapan yang konstruktif ( membangun ). Penyikapan disini adalah bagaimana kita meresponi tekanan-tekanan itu.
  • Ada proses transformasi yang kita tempuh. Max More ( 1993 ) menyatakan, transformasi adalah sebuah proses yang dapat meningkatkan personal extropy ( kapasitas untuk berkembang )
Dengan kata lain, stres itu positif atau menggerakan batin kita apabila kita bisa menanganinya secara positif. Sebaliknya, stres akan negatif kalau penangannya negatif. Ini karena, munculnya stres sendiri tidak bisa dikontrol seratus persem. Penanganan positif dimulai dari pikiran positif dan penanganan negatif dimulai dari pikiran negatif.
Stres yang tidak ditangani secara positif sangat berpotensi menimbulkan depresi. Depresi adalah keadaan batin yang tertekan secara berkelanjutan. Kalau batin anda hanya merasa tertekan, itu disebut stres. Phillip L.Rice ( 1992 ), menjelaskan bahwa depresi adalah gangguan mood, kondisi emosional berkepanjangan yang mewarnai seluruh proses mental ( berfikir, berperasaan, dan berperilaku ) seseorang.
Beberapa gejala depresi itu, antara lain :
  • Memburuknya perasaan dan persepsi seseorang terhadap dirinya
  • Memburuknya kemampuan seseorang dalam menanggapi persoalan
  • Tidak bisa menemukan kesenangan dalam berbagai hal
  • Munculnya perasaan putus asa, tidak berharga, atau sudah tidak berdaya lagi
  • Berlebihan dalam menilai diri secara negatif, selalu menyalahkan diri secara negatif, selalu menyalahkan diri sendiri, dan selalu menghakimi diri dengan kesimpulan-kesimpulan yang negatif
  • Tidak memilih gairah seksual positif
  • Tidak bisa menciptakan hubungan yang hangat kepada teman atau keluarga
  • Pesimis dalam melihat masa depan.
  • Tidak menunjukan sifat bertanggung jawab ketika menyelesaikan tugas
  • Cenderung ingin menarik diri dari orang banyak
  • Memburuknya sikap dan tindakan sehari-hari
  • Cepat marah, cepat mengeluh atau mengerutu
  • Tidak puas dengan kehidupannya (kufur mental)
  • Ingatannya tidak bagus atau rusak
  • Konsentrasinya tidak bagus
  • Gamang dalam melangkah, tidak memiliki keputusan hidup jelas
  • Gagal dalam mengatasi persoalan hidup harian secara positif dan konstruktif (baik, bermanfaat dan benar) atau lebih cenderung membiarkan dan mengabaikan.
  • Berfikir untuk bunuh diri atau "ingin mati saja"

 " Seseorang tidak terluka hatinya oleh peristiwa yang menimpannya,
           tetapi oleh opini yang ia ciptakan atas peristiwa itu"
                                ( Michel de Montaigne, 1533-1592)

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir Positif oleh A.N Ubaedy (human learning specialist)