Halaman

Jumat, 06 Januari 2012

Tulisan 2 (Pikiran Positif dan Faktor Sukses)


PIKIRAN POSITIF DAN FAKTOR SUKSES

Perlu kita sadari, ada perbedaan antara apa yang kita inginkan dan apa yang mengisi muatan pikirann kita. Apa yang kita inginkan itu biasanya cukup bisa dijelaskan dengan dua hal, yaitu :
a)            Keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang kita inginkan
b)            Keinginan untuk terhindar dari sesuatu yang tidak kita inginkan
Setiap orang pasti ingin berhasil dalam usahanya, dalam karirnya, dalam studinya, dalam rumah tangganya, dalam kehidupan sosialnya, dan seterusnya. Sebaliknya, pasti setiap orang tidak ada yang ingin gagal dalam karir, usaha, rumah tangga, hubungan sosial, dan seterusnya. Manusia menginginkan keberhasilan. Manusia ingin terhindar dari hal-hal yang bukan keinginannya.
Meski sedemikian rupa baiknya keinginan manusia itu, namun paradoksnya, tidak semua manusia, bahkan sebagian besarnya, tidak memiliki muatan pikiran yang tidak sesuai dengan keinginannya. Meski semua manusia ingin berhasil tetapi hanya sedikit manusia yang mengisi ruang pikirannya dengan muatan-muatan yang mendukung keberhasilan (muatan positif). Mesti tidak satupun manusia ingin gagal, namun prakteknya, sebagian besar manusia justru mengisi ruang pikirannya dengan muatan muatan yang mendukung kegagalan.
Kalau orang punya kesimpulan negatif tentang dirinya, tentang peluang, tentang keadaan disekitarnya, maka kesimpulan demikian adalah kesimpulan yang mendukung kegagalan. Biarpun orang itu menginginkan keberhasilan, namun jika muatan pikirannya negatif, kemungkinan besar orang itu belum bisa meraih keberhasilan seperti yang diinginkan.
Tidak semua orang mengisi muatan pikirannya dengan muatan-muatan yang mendukung untuk damai. Kalau anda ingin damai namun anda gagal memahami posisi orang lain atau mempertahankan kebenaran sendiri, hampir dipastikan keinginan anda untuk gagal atau susah terwujud.
Itu semua adalah bukti bahwa ada perbedaan antara apa yang kita inginkan dan apa yang mengisi muatan pikiran kita. Kalau ada pertanyaan manakah yang lebih signifikan dalam menentukan nasib kita, maka jawabannya adalah muatan pikiran, bukan keinginan. Pendeknya, kalau muatan pikiran ini negatif, maka kita akan menjadi orang yang negatif, meski kita ingin menjadi orang yang positif.
Dari sekian banyak orang yang berprestasi, mereka punya muatan pikiran yang positif. Dalam hal keinginan, mereka tidak berbeda dengan kebanyakan orang. Mereka ingin berhasil dan mereka tidak ingin gagal. Bedanya adalah mereka memperkuat keinginannya dengan muatan pikiran yang positif. Diantara muatan bentuk-bentuk muatan pikiran positif yang mereka miliki itu antara lain :
-          Mereka punya pikiran positif tentang dirinya, potensinya, atau kekurangannya
-          Mereka punya pikiran positif terhadap oarang lain sehingga mereka lebih mudah membangun, mempertahankan, dan memberdayakan hubungan kemanusiaan dengan orang lain
-          Mereka punya pikiran positif terhadap keadaan eksternal yang melingkupi dirinya sehingga mereka lebih mudah melihat peluang atau lebih mudah menemukan solusi yang positif terhadap persoalannya.
-          Mereka punya pikiran positif terhadap tuhan sehingga langkahnya lebih baik digerakkan oleh energi positif dari dalam dirinya
Kalau dilihat dari teori kepribadiannya, berfikir positif adalah faktor sukses yabf paling kunci. Faktor sukses ini dimiliki oleh setiap manusia yang lahir ke dunia ini. Faktor sukses ini adalah berbagai faktor yang dapat membuat hidup kita bisa sukses apabila itu kita gunakan atau diaktifkan. Pengertian sukses disini adalah proses, bukan berhasil.
Kenapa dikatakan berpikir positif itu merupakan faktor sukses yang paling kunci? Kalau lihat sejumlah literatur, disana banyak istilah yang menjelaskan keterkaitan antara pikiran positif dan keadaan diri kita, baik secara lahir dan batin (kesuksesan lahir dan kesuksesan batin). Sebagian istilah-istilah itu adalah :
1.              Konsep Diri (Self Concept)
Konsep diri adalah apa yang kita persepsikan terhadap diri kita, bagaimana kita mempersepsikan diri sendiri. Pendeknya, konsep diri adalah bagaimana kita menilai diri kita atau menyimpulkan diri sendiri. Ada orang yang mempunyai penilaian buruk tentang dirinya tetapi ada juga yang sebaliknya. Darimana penilaian ini muncul? Tentu dari muatan pikiran yang diciptakan atau dimasukkan ke dalam ruang pikirannya.

“tindakan manusia itu erat kaitannya dengan
bagaimana manusia itu menilai dirinya.”
(Dr. Maxwell Maltz)

        Menurut Harter (1991), pengaruh konsep diri yang paling besar ada 2 hal, yaitu : a) afeksi dan b) motivasi. Afeksi disini mengarah pada kondisi emosi seseorang. Konsep diri positif akan berpengaruh atas munculnya emosi positif, seperti kebahagiaan, kepuasan, dan seterusnya. Sebaliknya, konsep diri negatif akan berpengaruh pada munculnya emosi negatif, misalnya kesedihan, tekanan, depresi, dan seterusnya.
        Sedangkan motivasi disitu mengarah pada pengertian kualitas motif seseorang untuk mengembangkan potensinya dalam meraih keinginan-keinginannya (prestasi). Konsep diri positif akan menjadi sumber motif perjuangan yang kuat. Sebaliknya, konsep diri negatif kerap menjadi sumber munculnya motif yang lemah.

“baik anda berfikir anda mampu atau anda
tidak mampu, itu benar dua-duanya.
Bedanya jika anda berfikir mampu,
Anda akan mampu meski tidak langsung.
Tapi jika anda berfikir tidak mampu,
Anda pasti tidak mampu.”

        Selain yang dikatakan harter diatas, konsep diri ini juga sangat erat hubungannya dengan tingkat kepercayaan diri seseorang. Orang yang punya konsep diri bagus akan memiliki tingkat kepercayaan yang lebih bagus. Kepercayaan diri ini sangat penting dalam meraih prestasi apapun. Menurut teori kopetensi, hubungan kepercayaan diri dengan kinerja (prestasi) itu dijelaskan sebagai berikut :
-        Orang yang pedenya bagus biasanya punya keputusan hidup yang mantap, tidak plinplan, tidak ragu-ragu, tidak minder, dan seterusnya
-        Orang yang pedenya bagus biasanya punya power yang personal yang kuat, kharismatik, disegani dan semisalnya
-        Orang yang pedenya bagus biasanya relatif lebih terbebas dari berbagai rasa terancam atau rasa tertekan, baik itu oleh keadaan atau oleh lingkungan
-        Orang yang pedenya bagus biasanya punya jati diri yang jauh lebih kuat dan jauh lebih jelas
-        Orang yang pedenya bagus biasanya punya komitmen yang kuat untuk maju atau punya kesadaran tanggung jawab yang lebih tinggi
Menurut spencer, self confidence adalah keyakinan seseorang atas kapabilitasnya dalam menjalankan tugas. Ini termasuk antara lain ekpresi keyakinannya dalam menghadapi tantangan atau masalah, keputusannya dalam merealisasikan ide atau gagasan, dan ketangguhannya dalam menangani kegagalan.

“self confidence merupakan model umum yang
Dimiliki para unggulan (superior performers).”
Spencer

2.             Self esteem
Istilah ini biasanya diterjemahkan dengan “harga diri” atau “kehormatan diri”. Tapi perlu dicatat bahwa perngertian self esteem disini bukan seperti yang sudah banyak disalah artikan oleh umum. Orang beranggapan bahwa self esteem itu adalah munculnya perasaan yang merasa diri berharga lalu minta dihargai oleh orang lain dengan cara-cara yang terkesan arogan atau haus kehormatan. ini misalnya saja : mudah tersinggung, memandang orang lain lebi rendah, dll.
Pengertian self esteem adalah bagaimana seseorang merasakan dirinya (how you feel about your self). Dari pendapat para ahli, dapat disimpulkan bahwa self esteem itu kalau didetailkan mengandung 3 pengertian dibawah ini :
-        Maksud “merasakan” disitu bukan merasa yang asal merasa (feeling), tetapi lebih merupakan “eksperiensing” dan “dealing with”. Jadi, orang yang harga dirinya bagus itu adalah orang yang mengalami proses hubungan yang positif dengan dirinya punya perasaan positif terhadap dirinya, punya penilaian yang bagus terhadap dirinya (self concept). Pengalaman dan proses hubungan yang positif inilah yang kemudian melahirkan sikap dan tindakan yang positif (terpuji atau terhormat)
-        Perasaan itu harus berbasiskan realita atau fakta fakta positif dalam praktek hidup. Ini berarti orang yang punya perasaan positif hanya ketika mengkonsumsi narkoba atau zat kimia lain tidak menjadi bukti adanya harga diri yang bagus. Pelampiasan demikian justru menjadi indikasi adanya kualitas harga diri yang rendah. Karena dia tidak bisa menciptakan kebahagiaan dari dalam akhirnya dia mencari di luar.
-        Perasaan disitu dimiliki sebagai “aset mental” untuk menciptakan dinamika hidup ke arah yang semakin positif. Ini berarti orang yang ”feel good” sebagai kekalahan atas pelampiasannya terhadap realitas tidak bisa dijadikan indikator adanya harga diri yang bagus. Feel good semacam ini malah menjadi indikator adanya rendahnya harga diri. Karena itu ada uangkapan, jadilah orang yang baik dan janganlah menjadi orang yang baik-baik saja. Orang yang baik adalah orang yang lebih baik. Sedangkan orang yang baik-baik saja adalah orang yang stag nan atau berada dalam kondisi yang disebut “kemampanan semu”.
Intinya harga diri itu adalah proses yang instrinsik dimana orang merasa perlu (sadar) untuk menjaga atau menghormati dirinya dengan cara-cara yang terhormat. Cara ini bisa dalam bentuk melakukan sesuatu yang positif atau dengan menghindari sesuatu yang negatif. Dengan cara ini maka secara alamiahnya akan mendatangkan feed back atau balasan yang bernama penghormatan itu. Tidak ada orang yang mendapatkan penghormatan kalau tidak menghormati dirinya. Menurut Smith & Petty (1995), orang yang mempunyai harga diri bagus ternyata lebih sanggup menjaga mood positif.
Dari sini bisa dipahami bahwa berfikir positif terhadap diri sendiri merupakan asas terbentuknya self esteem yang bagus. Gampangnya bebicara, kalau kita punya pikiran negatif terhadap diri sendiri atau terhadap keadaan, maka akan muncul adalah perasaan negatif. Perasaan negatif inilah yang membuat kita merasa berat untuk melakukan tindakan-tindakan positif.
Karena itu, menurut ajaran agama,orang yang tidak membersihkan jiwanya dari kotoran negatif akan merugi. Salah satu bentuk kerugian yang paling konkret adalah munculnya mood negatif , seperti kemalasan, ogah-ogahan, setengah-setengah, yang dapat mengakibatkan rendahnya dorongan berprestasi.Einstein menyimpulkan bahwa tidak ada karya hebat yang dihasilkan dari tangan seseorang yang bantinnya dilanda kegundahan.
Bahkan menurut buku The Heart of The Soul (2002), sumber berbagai malapetaka emosi, seperti misalnya stres, distres atau depresi itu adalah self worth. Bagaimana seseorang merasakan dirinya (ex periencing and dealing) akan menentukan tingkat kerentanannya terhadap stresor atau tekanan eksternal lainnya akan cenderung ‘dikit-dikit’ merasa terhina, merasa harus balas dendam, merasa ditekan, merasa terhimpit, merasa hancur, merasa terancam, dan seterusnya.

“karena dibatinmu ada masalah, maka banyak masalah yang mendatangimu.
Bukan karena ada masalah yang mendatangimu lalu batinmu bermasalah.
 Karena kamu bahagia, maka hidupmu menjadi nikmat.
Bukan karena kamu mendapatkan nikmat lalu kamu bahagia.”

Fakta lain dapat menjelaskan hubungan konkret antara self esteem dengan prestasi (faktor sukses) itu adalah kebahagiaan diri (self happiness). Orang yang self esteemnya bagus akan memiliki kemampuan yang lebih bagus dalam menciptakan kebahagiaan di dalam dirinya atau menjadi orang yang bahagia.
Orang yang bahagia itu orang yang seperti apa? Orang yang bahagia adalah orang yang dibatinya terdapat dinamika positif. Orang yang bahagia adalah orang yang batinnya memunculkan dorongan untuk meraih tujuan-tujuan positif, memunculkan dorongan untuk melakukan aktivitas yang postif, baik terhadap diri sendiri, orang lain, dan keadaan.
Memang, dalam prakteknya, kebahagiaan seseorang itu terkait dengan 2 faktor, yaitu : a) faktor internal (batin), dan b) faktor eksternal (keadaan dan orang lain). Tapi perlu dicatat disini bahwa masing-masing faktor punya peranannya. Peranan faktor internal adalah penentu kebahagiaan, sedangkan peranan faktor eksternal adalah pendukung.
Sebagai bukti nyata, kalau kita tidak memiliki uang atau materi yang cukup untuk kebutuhan primer sehari-hari menurut ukuran kita, pasti kebahagiaan kita terancam. Namun begitu, ini tidak menjamin kalau kita punya uang, lantas kita akan menjadi orang yang bahagia. Sudah banyak oarang yang kaya tidak bahagia. Kalau kita sedang berada ditengah keadaan yang sulit, pasti kebahagiaan kita terancam. Tapi ini tidak menjadi jaminan bahwa kita akan menjadi orang yang bahagia begitu kita berada ditengah keadaan yang tercukupi.

“tempat dan keadaan tidak menjamin kebahagiaan,
karena kebahagiaan itu kita yang bisa menentukan.”
(Robert J. Hasting)

Jadi, kebahagiaan diri seseorang ditentukan oleh tinggi rendahnya self esteem yang dimiliki. Jika self esteemnya bagus, maka kebahagiaan dirinya bagus. Jika self esteemnya bagus, meski orang itu menghadapi kenyataan yang tidak bagus, maka kenyataan itu tidak sampai membuat dirinya menjadi menderita terlalu lama. Ini beda dengan orang yang self esteemnya tidak bagus. Dia akan menjadi orang yang tidak bahagia di tengan-tengah keadaan apapun.

“prestasi besar tidak bisa dihasilkan oleh orang
yang tidak bisa menerima dirinya secara utuh.”
(Lowell)

Sumber : Buku Kedasyatan Berfikir Positif oleh A.N Ubaedy

Tidak ada komentar:

Posting Komentar